BENGKULU, LITERASIHUKUM.COM - Ekosistem terumbu karang di Teluk Sepang, Bengkulu, kini berada di ambang kehancuran. Sebagai bagian integral dari Segitiga Karang (Coral Triangle), terumbu karang Teluk Sepang menyimpan keanekaragaman hayati luar biasa yang menjadi tulang punggung kehidupan masyarakat pesisir. Selain sebagai habitat ribuan spesies ikan, invertebrata, dan biota laut, terumbu karang juga berfungsi sebagai penopang ekonomi perikanan, destinasi ekowisata bawah laut, penyerap karbon biru yang efektif, serta pelindung alami pantai dari abrasi dan tsunami. Namun, limbah PLTU batubara Teluk Sepang telah menjadi ancaman eksistensial yang sangat serius.

Kondisi Terkini Terumbu Karang Teluk Sepang

Kondisi terumbu karang di perairan Bengkulu, khususnya kawasan Teluk Sepang dan sekitar Pulau Tikus, saat ini berada dalam kategori sedang (fair condition). Hasil pemantauan ilmiah menunjukkan rata-rata tutupan karang hidup hanya berkisar 37-45 persen.

Di perairan timur Pulau Tikus yang berdekatan dengan Teluk Sepang, tutupan karang hidup tercatat sebesar 38,89 persen dengan kejernihan air yang semakin menurun akibat sedimentasi. Meskipun keberagaman ikan indikator seperti famili Chaetodontidae masih ditemukan, tren penurunan tutupan karang dan munculnya koloni karang yang memutih menandakan tekanan lingkungan yang semakin intens. Kondisi ini jauh dari kategori baik (di atas 50 persen) dan berisiko turun ke kategori rusak jika tidak ada intervensi cepat.

Pemantauan berkala yang dilakukan Balitbangda Bengkulu, Universitas Bengkulu (UNIB), dan kelompok masyarakat sipil menjadi sangat krusial untuk mendokumentasikan perubahan ekosistem secara akurat.