Kasus Andrie Yunus Jadi Sorotan karena Menyangkut Keselamatan Pembela HAM

Kasus ini mendapat perhatian luas bukan hanya karena bentuk kekerasannya yang ekstrem, tetapi juga karena korbannya adalah aktivis HAM yang selama ini aktif dalam advokasi isu-isu sensitif. Menurut keterangan KontraS, serangan terjadi setelah Andrie mengikuti podcast di kantor YLBHI bertajuk “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia”. KontraS menilai peristiwa itu sebagai serangan terhadap suara-suara kritis masyarakat sipil dan mendesak aparat membongkar bukan hanya pelaku, tetapi juga motif di balik penyerangan tersebut.

Perhatian terhadap keselamatan Andrie juga tidak lepas dari riwayat tekanan yang pernah ia ungkap sebelumnya. Setelah protes terhadap pembahasan RUU TNI pada Maret 2025, Andrie sempat melaporkan adanya telepon dari nomor tak dikenal dan kedatangan orang tak dikenal ke kantor KontraS. Dalam sidang uji formil UU TNI di Mahkamah Konstitusi, Andrie kembali menyampaikan adanya intimidasi fisik dan digital pascaaksi tersebut. Fakta-fakta ini belum membuktikan hubungan langsung dengan serangan terbaru, tetapi cukup menunjukkan bahwa kerja-kerja advokasi yang ia jalankan memang berada dalam situasi risiko yang nyata.

Karena itu, desakan agar pelaku penyiraman air keras segera ditangkap tidak hanya menyangkut keadilan bagi satu korban. Perkara ini juga menyentuh isu yang lebih luas, yakni jaminan keamanan bagi pembela HAM, kepercayaan publik terhadap penegakan hukum, dan kemampuan negara menjaga ruang kebebasan sipil. Jika polisi mampu mengungkap pelaku dan motif secara cepat, transparan, dan akuntabel, maka negara menunjukkan bahwa serangan terhadap aktivis tidak akan dibiarkan berlalu tanpa pertanggungjawaban. Sebaliknya, jika kasus ini berlarut tanpa kejelasan, yang menguat justru rasa takut dan kesan impunitas.