WASHINGTON DC, LITERASIHUKUM.COM — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa Angkatan Laut AS akan memulai blokade di Selat Hormuz setelah perundingan damai antara Washington dan Teheran di Pakistan berakhir tanpa kesepakatan. Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyatakan kapal-kapal yang membayar “tol” kepada Iran tidak akan mendapat jalur aman, sementara langkah militer itu disebutnya sebagai respons atas kebuntuan diplomasi dan penutupan jalur pelayaran oleh Iran.

Trump pada awalnya menulis bahwa AL AS akan memblokir semua kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz. Namun, beberapa jam kemudian US Central Command (CENTCOM) memberi penjelasan yang lebih sempit: blokade itu akan diterapkan untuk kapal yang menuju atau keluar dari pelabuhan Iran, sedangkan kapal yang masuk dan keluar dari pelabuhan non-Iran tidak akan dihentikan oleh pasukan AS. CENTCOM juga menyebut langkah itu mulai diberlakukan pada Senin pukul 10.00 ET.

Iran ancam anggap langkah militer AS sebagai pelanggaran gencatan senjata

Keputusan Trump itu datang setelah marathon talks AS-Iran di Pakistan gagal menghasilkan terobosan untuk mengakhiri perang. Reuters melaporkan kebuntuan perundingan tersebut kembali mengguncang kekhawatiran atas rapuhnya gencatan senjata dua pekan yang sebelumnya sempat diumumkan, sekaligus mendorong pasar energi kembali bergejolak.

Respons dari Teheran pun keras. Garda Revolusi Iran memperingatkan bahwa setiap kapal militer yang mencoba mendekati Selat Hormuz akan dipandang sebagai pelanggaran gencatan senjata dan akan dihadapi secara tegas. Di sisi lain, Iran sebelumnya memang telah membatasi jalur pelayaran di selat tersebut, yang selama konflik membuat arus energi global terganggu. Reuters juga mencatat bahwa hingga Senin hanya terlihat satu kapal berbendera Iran yang masih berada di kawasan selat itu, setelah tiga supertanker sempat melintas pada Sabtu.

Harga minyak melonjak, pasar cemas konflik energi makin melebar

Dampak pasar dari keputusan Trump langsung terasa. Brent crude melonjak hampir 8 persen ke sekitar 102,80 dollar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik lebih dari 8,6 persen ke sekitar 104,88 dollar AS per barel. Reuters menilai blokade ini berpotensi menghentikan hingga 2 juta barel per hari arus minyak terkait Iran dan mengembalikan pasar pada kondisi tegang sebelum gencatan senjata.

Signifikansi Selat Hormuz sendiri sangat besar bagi ekonomi dunia. Jalur laut ini merupakan chokepoint untuk sekitar seperlima perdagangan minyak global, sehingga setiap gangguan terhadap lalu lintasnya hampir selalu berdampak langsung pada harga energi, inflasi, dan biaya logistik internasional. Karena itu, kebijakan blokade ini tidak hanya dibaca sebagai langkah militer, tetapi juga sebagai eskalasi ekonomi yang bisa memukul pasar dunia dalam waktu singkat.

Dengan demikian, keputusan Trump menandai fase baru dalam konflik AS-Iran: dari tekanan diplomatik dan ancaman serangan, ke upaya mengontrol jalur energi paling strategis di dunia. Namun, karena cakupan blokade versi Trump dan penjelasan teknis dari CENTCOM tidak sepenuhnya sama, arah pelaksanaannya masih akan sangat bergantung pada perkembangan militer di lapangan dan respons Iran dalam beberapa hari ke depan.